Apakah Benar Kelelawar Mengubah Pekikannya ketika Berburu?

Fenomena ekolokasi kelelawar telah menjadi polemik diantara para peneliti dunia selama bertahun-tahun. Apalagi selama ini kelelawar diketahui merupakan satu-satunya mamalia selain ikan paus dan lumba-lumba yang memiliki daya ekolokasi. Seperti nyanyian burung, ekolokasi pada masing-masing jenis kelelawar sangatlah spesifik. Penggunaan ekolokasi ketika berburu sangatlah vital bagi satu-satunya mamalia terbang pemakan serangga ini. Namun apakah Anda mengetahui bahwa kelelawar mengubah pekikan suaranya tiap kali berburu serangga?

Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh Ahli Biologi, Lasse Jakobsen dan koleganya dari University of Southern, Denmark telah membuktikan hal ini. Berdasarkan penelitian Jakobsen, rekaman suara kelelawar di suatu hamparan mikrofon dapat menjelaskan mengapa para pemburu serangga ini mengubah pekikannya ketika berburu. Frekuensi ekolokasi yang rendah ternyata dibutuhkan oleh kelelawar untuk mendapatkan pandangan yang luas dan lebar sehingga mempersulit serangga untuk menghilang dari pandangan kelelawar. Hal ini logis karena kelelawar pemakan serangga melihat dengan cara ekolokasi atau daya pantul gema yang dipancarkan oleh mulut dan diterima kembali oleh telinganya. Walaupun demikian menurut Lasse Jakobsen, kebanyakan serangga dapat mendengarkan suara ultrasonik. Dan jika suara ini terlalu dekat dengan mereka maka serangga – serangga ini akan menarik sayapnya dan menghindari kelelawar.

Pada sekitar 500 kelelawar pemakan serangga jenis Daubenton yang menjadi objek penelitian Jakobsen dan tim penelitinya di Proceedings of the National Academy of Sciences (2010), frekuensi panggilan kelelawar ternyata menurun hingga oktaf penuh ketika mendekati serangga. Namun para ilmuwan belum mengetahui secara pasti mengapa hal itu seperti demikian. Saat ini para Ilmuwan berpikir bahwa kelelawar umumnya tidak dapat mempertahankan frekuensi suaranya yang tinggi atau ada sesuatu yang terjadi pada bandwidth atau lebar pita suara kelelawar.

Jakobsen dalam eksperimennya menggunakan setidaknya 12 mikrofon yang tersebar di setiap sudut penangkaran dan berfungsi untuk merekam setiap aktivitas kelelawar. Dengan membandingkan intensitas panggilan pada tiap mikrofon dan lokasi, tim peneliti ini telah berhasil menghitung area yang dijangkau pada tiap frekuensi panggilan kelelawar selama periode berburu. Frekuensi suara tinggi yang digunakan ketika awal berburu berbentuk menyerupai sorot lampu senter pada jarak yang pendek. Lalu, diikuti dengan frekuensi suara yang pendek seperti lampu pijar dan memancarkan lingkaran yang luas. Sehingga apabila seekor kelelawar mendekati mangsanya, serangga ini tidak memiliki kesempatan untuk bersembunyi atau menghindar lagi. Rencana studi Jakobsen selanjutnya adalah meneliti apakah bentuk sorot frekuensi kelelawar tetap sama baik diantara spesies yang berbeda ukuran maupun aktivitas perilakunya. Karena menurutnya sorot frekuensi ekolokasi tampaknya sangat berperan besar dalam seluruh aktivitas kelelawar.

Baik kelelawar maupun burung selanjutnya turut memperlihatkan vokalisasi suara dengan bandwidth dan rata-rata pengulangan suara panggilan yang juga tinggi ketika berburu. Seekor kelelawar yang sedang berburu pada umumnya secara drastis meningkatkan rata – rata panggilannya dari 2 hingga 20 panggilan perdetik menjadi 170 panggilan perdetik sebelum akhirnya menangkap mangsanya di udara. Akhirnya bandwidth suara panggilan ini kemudian turun menjadi 10 – 30 kHz untuk pekikan puncak atau ‘final buzz’ di akhir perburuan (Schmieder et al., 2010).

Namun dalam uraian penelitiannya di jurnal Biology Letter (2010), Daniela Schmieder dan koleganya dari Max Planck Institute of Ornithology, Texas Tech University, dan Universitas Malaya telah membuktikan bahwa terdapat 3 jenis kelelawar dari jenis Kerivoula dan Phoniscus dan Murina di Kawasan Asia Tenggara yang memiliki jangkauan vokal panggilan yang stabil tidak seperti kelelawar dari Famili Vespertilionidae di Kawasan Eropa dan Amerika Serikat. Kerivoula dan Phoniscus memiliki bandwidth panggilan antara 78 dan 170 kHz dengan repetisi panggilan rata-rata 140-200 panggilan perdetik sedangkan pada kelelawar Murina 80 panggilan perdetik. Adapun penurunan frekuensi panggilan yang umumnya terjadi pada kelelawar Subtropis tidak terlihat pada ketiga jenis kelelawar tersebut.

Perilaku vokal ekstrim dari beberapa jenis kelelawar Kerivolinae dan Murinidae ini telah menunjukkan adanya keanekaan sistem ekolokasi dan adaptasi ekologis kelelawar ketika berburu di dalam hutan hujan tropis. Hasil penelitian ini juga telah menunjukkan beberapa jenis kelelawar pemakan serangga Asia Tenggara mampu mempertahankan bandwidth dan repetisi panggilan yang tinggi ketika berburu. Dimana tentunya hal ini berseberangan dengan pandangan umum ekolokasi kelelawar pemakan serangga ketika sedang berburu.

Walaupun berbagai penelitian ekolokasi kelelawar telah banyak dilakukan selama ini, kedua studi keanekaan sistem ekolokasi kelelawar yang dilakukan Jacobsen dan Schmeider telah berhasil mengajukan fakta terkini mengenai fenomena ekolokasi kelelawar. Fakta yang mungkin sangat mengejutkan ini juga telah membuktikan bahwa lahan penelitian tentang ekolokasi kelelawar makin terbentang luas dengan banyaknya ditemukan variasi diantara jenis maupun habitat kelelawar di seluruh dunia.

This post is a mirror page from : http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/16/apakah-benar-kelelawar-mengubah-pekikannya-ketika-berburu-347827.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s