Puasa vs. Berhenti Media Sosial

“Digital Minimalism: a philosophy of technology use in which you focus your online time on a small number of carefully selected and optimized activities that strongly support things you value, and then happily miss out on everything else.” 

Cal Newport (2019)

Mungkin banyak di antara teman-teman yang sudah mendengar, membaca dan menonton berbagai topik sekitaran Digital Minimalism, Puasa Media Sosial, dan berhenti sosial media. Terkait dengan isu media sosial, Pangeran Harry juga baru-baru ini juga telah menulis bagaimana media sosial telah memecah belah kehidupan masyarakat modern dan perlunya peran perusahaan dalam membatasi konten berbahaya (lihat tautan ini). Berdasarkan pengalaman pribadi ternyata ada perbedaan secara psikologis dengan berpuasa dan berhenti media sosial secara total.

Beberapa tahun lalu saya dikenal cukup aktif di berbagai media sosial seperti Friendster dan kemudian Facebook. Selain itu saya merambah ke media sosial lainnya seperti Twitter, Pinterest, Linkedin dan akhirnya Instagram.

Pernah pula saya melakukan puasa Facebook selama seminggu dan akhirnya balik lagi karena ketagihan. Lalu saya kembali menonaktifkan akun Facebook selama setahun lamanya. Namun hal ini tak bertahan karena tugas perkuliahan ketika bersekolah di Inggris yang banyak didistribusikan melalui grup Facebook. Setelah kembali ke Indonesia akhirnya saya memutuskan untuk menghapus hampir seluruh akun sosial media dan tidak menoleh ke belakang. Alasannya karena terlalu banyak distraksi dan mempersempit ruang konsentrasi.

Walaupun tema dari tulisan ini mengenai puasa dan berhenti media sosial, saat ini saya masih memiliki 3 media sosial aktif (Twitter, Linkedin dan Whatsapp). Mungkin ada juga yang tidak setuju kalau Whatsapp dikategorikan sebagai media sosial. Namun ketiga aplikasi ini saya kategorikan sebagai media sosial karena lebih merupakan hiburan bagi kehidupan saya sehari-hari. Selain itu saya memberlakukan jam aktif untuk ‘bermain’ media sosial dan kelihatannya akan berkurang secara masif dalam waktu dekat.

Menurut saya pribadi berpuasa media sosial tidak begitu mempengaruhi kualitas kehidupan dibanding berhenti total apabila dilakukan dalam waktu singkat. Namun setidaknya dengan membatasi pilihan informasi secara konsisten tentunya akan lebih baik dibanding sesekali berpuasa media sosial.


Tulisan Puasa vs. Berhenti Media Sosial pertama kali muncul di www.felicialasmana.com

2 thoughts on “Puasa vs. Berhenti Media Sosial

  1. Bener lah Fel. Kalo enggak, sekolah gak selesai2 ya…

    Like

    1. haaa iya tapi jadi nyebelin sih. Mungkin karena email kampus dianggap ga efektif. Orang2 lebih cenderung cek inbox/grup fb dibanding email.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: