Filosofi Light Traveling

DSCF4305

Bagi saya semua tempat memiliki cerita.

Saya tidak memiliki tempat impian untuk berkelana karena setiap tempat memiliki karakter tersendiri. Kalaupun ada tempat yang harus dikunjungi sebelum mati mungkin Inggris dan Amerika.  Itu pun hanya untuk menuntut ilmu.

Saya cinta laut. Saya cinta gunung. Saya cinta hutan. Saya cinta kota. Saya cinta desa. Saya tidak punya negeri impian. Saya hanya pergi dan mengalir seperti air. Jika saya ingin pergi ke suatu tempat maka saya akan pergi kesana.

Hindarkan selalu mencari-cari harga diskon. Hindarkan selalu mencari-cari tiket promo. Pastinya ada waktu yang tepat untuk itu dan kita akan mendapatkannya di waktu yang tepat pula. Hiraukan apa kata orang tentang tempat yang akan kita tuju. Pergi saja. Nikmati saja hidup. Mengalir seperti sungai. Bebas seperti burung.

Bawalah yang diperlukan saja. Bawalah yang seringan mungkin. Ringan seperti kapas. Ringan dan ringkas dan simpel. Bukan berarti berkelana cepat-cepat. Berkelana singkat atau kilat bukan berarti tergesa-gesa. Kilat dapat berarti dengan waktu terbatas mengandung makna. Hindari berkelana ke banyak tempat sekaligus. Fokus pada dua atau tiga tempat lebih baik daripada enam tempat dalam tiga hari.

Berbaurlah dengan masyarakat lokal. Rasakan masakan khas dan eksotis. Tengok budaya asli masyarakat setempat. Pintar-pintarlah menawar dan bertanya.

Nikmati setiap tetes hujan dan wangi tanah dan desiran angin. Nikmati matahari terbit dan matahari nan terik dan matahari terbenam. Nikmati bulan mati dan bulan baru dan bulan purnama.

Matikan telepon genggammu. Apabila perlu tinggalkan di rumahmu. Tinggalkan komputer jinjingmu di rumah juga. Hindarkan selalu mengambil gambar tanpa henti. Nikmati pemandangan indah itu selama mungkin. Sesapi keindahan alam semesta yang diciptakan hanya untuk kamu pada detik itu juga. Memori dalam kepalamu lebih mudah dipercaya daripada harus mencari dalam kumpulan folder komputer tak berujung. Ambilah gambar yang paling berkesan menurutmu. Apakah kamu ingat masa-masa sebelum kamera digital?

Banyak-banyaklah membaca buku selama di perjalanan. Mulailah menulis jurnal selama di perjalanan. Kembalilah menulis dengan buku dan pulpen bila perlu. Nikmatilah kemerdekaanmu sebagai pengelana.

Apakah kamu pernah berpikir seperti ini?

Tentang Oleh-oleh

DSCF8337

Oleh – oleh terbaik yang pernah saya berikan pada orang lain kemungkinan besar adalah foto dan cerita ketika berkelana. Saya sangat sering merasa sebal kalau ada orang yang dengan serta merta meminta dengan sangat oleh-oleh setelah berpergian baik untuk wisata maupun bekerja (maaf agak lebay hehe). Ada juga yang nyindirnya pun sampai berminggu-minggu (males ga tuh?). Seringkali pula jadinya malah malas kalau mereka nanya kita mau kemana lagi. Bukan masalah tanya-tanyanya tapi sedari awal orang-orang ini sudah berharap tentang oleh-oleh. Memang wajar sih tapi seringnya bikin jengkel belum lagi minta yang macem-macem.

Mungkin memang sudah jadi tradisi tapi bagi saya ini amat sangat ganggu apalagi sering perjalanan yang akan saya jalani adalah business trip atau budget traveling/backpacking. Tapi bukan berarti saya tidak akan pernah beli oleh-oleh lho. Bukannya ga ikhlas cuman kadangkala jengkel saja jadi mendingan ga usah beli aja.

Apakah mereka pernah berpikir kalau berpergian itu bukan hanya soal oleh-oleh? Sebuah perjalanan bukanlah masalah uang. Konsep traveling yang saya usung pastinya bukan tentang oleh-oleh tapi kepuasan batin dan meraup pengalaman sebanyak-banyaknya yang mungkin walaupun diceritakan akan sangat jauh maknanya kalau tidak dirasakan sendiri.

Jadi jangan mengharapkan banyak oleh-oleh dari saya karena terus terang saya paling malas kalau beli oleh-oleh

Pertama, karena saya paling malas untuk beli oleh-oleh. Ini betul karena untuk membeli barang untuk diri saya sendiri,  saya sudah cukup kikir dan membuang banyak waktu. Contohnya paling sering  adalah pada saat beli sepatu. Bisa jadi untuk memilih sepatu dengan model yang sama namun warna yang berbeda perlu waktu 3 jam. Ini juga pakai acara keliling mall untuk dapetin harga yang lebih murah padahal akhirnya balik lagi ke toko awal. Apalagi ini dengan banyak pilihan oleh-oleh?

Kedua, rucksack saya ga cukup besar untuk menampung oleh-oleh untuk semua orang dan biasanya menghindari untuk menaruh barang di bagasi (hemat dan cepat sesuai konsep light traveling).

Ketiga, berdasarkan kepentingan ada 4 tipe manusia oleh-oleh

Tipe 1. Bilang “Terima kasih banyak yaaa. Masih ingat sama saya” (paling baik dan kemungkinan teman baik atau keluarga)
Tipe 2. Bilang “Saya pengen ini dan nanti saya ganti” (padahal nantinya ngga dan hanya mengucapkan terima kasih)
Tipe 3. Bilang “Terima kasih yaaa tapi saya pengen yang ini dan itu sebenernya” (ga tau terima kasih kan ini orang?).
Tipe 4. Mana pacar baru? (eh? ini beda ya? tapi ada juga sih yang nanya gini hehe)

Tulisan ini mungkin tercipta karena banyak pengalaman buruk berbagi oleh-oleh kali yaa? Bagaimana dengan kalian? Apakah ada pengalaman menarik tentang berbagi oleh-oleh?

India: Light Traveling & Perempuan

DSCF8472

Untuk perempuan muda dan gemar traveling seperti saya apa aja sih yg harus ada dibawa. Berikut daftar barang bawaan dan pakaian saya pada waktu ke India awal bulan Oktober 2013.

Ketika berangkat saya memakai

  • Celana panjang
  • Giordano Tee warna ungu yang kalaupun kotor tidak akan begitu kelihatan
  • Sepatu Merrel : barefoot shoes yang baik untuk jalan, lari maupun treking. Sebenarnya bawa sandal juga tapi hampir tidak pernah dipakai selama di India.

Perlengkapan utama

  • Dokumen travel  (paspor, itinerari, credit card, ID)
  • Rucksack/Carrier REI Rungwe 40 Ltr : jujur yang dipakai mungkin cuman 30 Ltr saja pas awal. Baru pas pulang langsung 40 Ltr gara-gara bawa titipan buku dan oleh-oleh. Saya suka karena ada risleting bawah untuk mengambil barang yang ada di bagian bawah tas.

Untuk pakaian sebisa mungkin dengan bahan tipis dan senyaman mungkin karena kemungkinan besar sangat sulit untuk menetap dalam waktu yang lama di satu tempat

  • 1 Tanktop : berguna untuk tidur maupun kaos dalam
  • 4 T-shirts : tentunya salah satu sudah dipakai lho sedari awal perjalanan. Karena biasanya susah cari jemuran saya pilih Giordano Tee yang cepat kering. Selain itu jangan lupakan keajaiban kemeja putih baik untuk acara formal maupun informal. Nampaknya di masa mendatang saya akan mengurangi bawaan baju saja menjadi cukup 3 atau malah 2 t-shirt saja untuk faktor kepraktisan.
  • 1 Pashmina : warna abu-bau yang netral yang berguna sebagai pengganti jaket di kereta atau bis karena ber-AC
  • 1 Celana pendek : buat berenang dan tidur juga oke
  • 1 Bikini/swimsuit : modal utama kalau mau berenang karena pastinya dimana saja dan kapan saya selalu selalu menjadi gadis perenang (malam).
  • 2 Celana panjang : Yang pasti dari awal sudah pakai salah satu. Salah satu yang layak dipertimbangkan karena cepat kering dan nyaman kalau pun dingin seperti Marmot Lobo.
  • Jaket : fleece yang berfungsi sebagai insulator yang sangat berguna ketika saya di Dharamsala yang cukup lumayan dingin karena terletak di kaki Gunung Himalaya
  • Sarung : bisa berfungsi sebagai sleeping bag, jaket, atau malah tas cadangan.

Tambahan lainnya yang juga tidak kalah penting

  • Kacamata hitam/Topi/Payung: pilih salah satu lebih baik
  • Obat pribadi : obat alergi dan parasetamol, soft lenses + solution versi mini pastinya ga boleh lupa
  • Alat mandi: dlm wadah mini 100ml atau malah lebih baik lagi kalau beli pas di lokasi tujuan.
  • Kotak perhiasan : untuk oleh-oleh anting dan kalung yang sangat rentan rusak maupun yang dipakai selama perjalanan. Kotak yang biasa saya pakai sebenarnya dari bekas wadah lulur mandi.
  • Kosmetik : siapa bilang perempuan ga bisa dandan kalo lagi traveling? Minimal supaya terlihat segar lah. Untuk bedak, moisturizer, eyeliner, mascara, eye shadow, lipstik saya pakai Caring Colours sedangkan untuk lipbalm saya pakai Nivea Soft Rose. Untuk Sunblock, Soltan Invisible lotion SPF 15 menjadi pilihan saya tapi sebelumnya supaya ringan pindahin dalam tabung mini bekas shampo hotel.
  • Deuter Wizard : untuk faktor kepraktisan terkadang rucksack saya tinggal di hostel atau rumah teman. deuter . Bisa juga diganti tas tissue seperti buat belanja di supermarket.
  • Jurnal dan Pulpen: terkadang dibutuhkan untuk menjelaskan rute atau sekedar bertukar info serta menulis buku harian selama perjalanan
  • Adaptor universal
  • Galaxy Note : ga ada laptop, phablet pun jadi. Kalau suntuk bisa browsing gratis dengan WiFi gratis. Kalau mau baca buku ada e-book reader. Jadi ga usah beli paperbook lagi.
  • Motorola ACTV: MP3 player sekaligus pedometer untuk aktivitas olah raga ketika traveling
  • Camera Fujifilm X10 : Kamera utama selain Galaxy Note :)

Sebagai cewek tentunya lebih besar tas yang dipakai malahan lebih banyak yang akan dibawa. Namun kerugiannya maka akan semakin berat pula dan agak menyusahkan untuk bepergian apalagi backpacking.

Jadi kamu pilih bawa carrier besar atau kecil?

My Fieldwork Style | Gaya Lapanganku

20130704_064753

Either you are a biologist like me or geologist or whateva! You definitely need to have style anywhere you go. Seems absurd??? OK boys and girls let’s define our style!

Apapun profesimu, ahli biologi seperti gue, ahli geologi atau apapun yang berhubungan kegiatan lapangan! Kamu perlu bergaya kemana pun kamu pergi. Absurd ya?? OK mari kita definisikan gaya lapangan kita!

Continue reading “My Fieldwork Style | Gaya Lapanganku”