Target 1 Juta Wisman Per Bulan Menurut Seorang Biolog, Pejalan dan Blogger

 

DSCF5051

Kepada Yth.:
Bapak Arief Yahya
Menteri Pariwisata Republik Indonesia
Kementerian Pariwisata Republik Indonesia
Jln. Medan Merdeka Barat No. 27
Jakarta 10110

Dear Pak Menteri,

Perkenankan saya seorang warga negara Indonesia yang turut peduli pada industri pariwisata Indonesia. Saya ingin mengutarakan sebuah opini publik mengenai kebijakan Pemerintah Indonesia yang menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 1 juta orang per bulan mulai Maret 2015.

Kebijakan baru yang seiring dengan target Presiden Joko Widodo, “20 Juta Wisatawan Mancanegara di Tahun 2019 ” tentunya diharapkan akan berdampak positif pada kemajuan ekonomi Bangsa Indonesia dengan segala implikasinya. Untuk itu saya ingin menyampaikan beragam rekomendasi sesuai dengan latar belakang saya sebagai seorang biolog, pejalan dan blogger yang mungkin dapat membantu penerapan kebijakan yang sempat dikatakan ambisius ini.

Sebagai seorang Biolog, kenyataan yang banyak saya temukan ketika berada di lapangan adalah keindahan alam (serta budaya) Indonesia yang banyak dianggap untuk komoditas wisatawan asing belaka (contoh: Raja Ampat, Papua Barat). Pandangan ini tentunya harus diubah karena siapa lagi yang seharusnya lebih menikmati apabila bukan kita sebagai wisatawan domestik. Walaupun memang benar pundi ekonomi Indonesia akan lebih terwujud dengan memusatkan perhatian kepada wisatawan asing.

Eksploitasi alam sebagai komoditas bisnis wisata tanpa memperhatikan kelestarian alam dan mendukung masyarakat adat juga menjadi hal yang lebih diperhatikan selanjutnya. Konsep Sustainable Tourism atau Wisata Lestari wajib untuk diterapkan dalam setiap sendi kegiatan wisata Indonesia. Hal ini dapat tercermin dalam segi infrastruktur yang ramah lingkungan, kegiatan wisata dan sumber daya manusia yang mendukung, menjunjung tinggi kesadaran sosial tapi tetap terukur demi kelangsungan hidup masyarakat khususnya di luar daerah perkotaan dan kawasan terpencil.

Koordinasi dan kerjasama lintas kementerian dari tingkat pusat hingga daerah juga sepertinya perlu untuk lebih ditingkatkan. Untuk itu harus ditinjau kembali keterkaitan wisata budaya dan ekosistem lokal yang melibatkan dinas serta pemangku kepentingan terkait (misalnya untuk pariwisata berbasis alam dengan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup). Wisata Indonesia juga diharapkan tidak mengusung konsep Business As Usual tetapi lebih memperhatikan kelestarian alam dan mendukung keberlangsungan masyarakat adat dalam pembangunan daerah (misalnya kemudahan birokrasi dan pendampingan perijinan dalam pembangunan infrastruktur parawisata yang mendukung perekonomian lokal).

Sebagai seorang Pejalan, saya dan kawan pejalan lainnya dapat berperan dalam sebagai Duta Wisata Indonesia baik di dalam maupun luar negeri. Walaupun demikian kita tidak hanya membutuhkan duta wisata tapi juga pejalan yang beretika sebagai ujung tombak industri parawisata dan pelestarian kawasan wisata Indonesia. Apakah yang dimaksud dengan pejalan beretika? Istilah ini saya gunakan bagi para pejalan yang tak hanya peduli akan pemenuhan kepentingan pribadi tapi juga turut memperhatikan isu lingkungan dan budaya ketika mengunjungi suatu lokasi wisata.

Gaya hidup pejalan lestari dan beretika sudah sepantasnya wajib untuk disosialisasikan dan diterapkan setiap saat. Hal ini adalah tugas kita semua sebagai masyarakat Indonesia termasuk Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Dengan demikian tugas dan fungsi Kementerian Parawisata sudah sepatutnya tidak hanya melulu soal promosi kegiatan dan tempat wisata Indonesia.

Sekali lagi saya nyatakan bahwa Industri Pariwisata Indonesia haruslah dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia. Menurut saya, gaya hidup sehat masyarakat Indonesia dapat pula diukur melalui kemampuan berlibur. Toh kegiatan wisata telah terbukti baik untuk kesehatan jiwa dan raga seseorang. Berdasarkan pengalaman pribadi, kegiatan berwisata ternyata dapat pula menunjukkan kemampuan finansial maupun waktu yang dikerahkan seseorang. Dengan demikian gaya hidup ini sebaiknya tidak hanya ada pada segelintir orang Indonesia maupun turis mancanegara. Potensi lokasi wisata Indonesia saat ini sangat beragam yang dapat disesuaikan dengan tingkat ekonomi masyarakat.

Sebagai seorang Blogger, saya hanya dapat menyuarakan pandangan saya terhadap industri wisata negeri ini melalui ranah tulisan, baik artikel blog maupun surat kabar, majalah dan serpihan pesan di berbagai media sosial. Dengan demikian jelas bahwa seorang Travel Blogger dapat dijadikan garis depan kegiatan promosi wisata Indonesia. Selain itu promosi wisata Indonesia melalui dunia maya terbukti efektif secara nasional dan terlebih lagi secara global. Selain itu beragam start up maupun usaha travel Indonesia juga perlu untuk lebih dirangkul dan terpetakan dalam rangka mendukung salah satu kegiatan perekonomian nasional ini.

Pendek kata, kemudahan akses berwisata serta mapannya infrastruktur (ramah lingkungan) di dalam negeri tentunya tak hanya akan mendorong minat wisatawan lokal tapi juga wisatawan asing yang selama ini menjadi target devisa negara. Apalagi sektor parawisata sangat berpotensi untuk dijadikan tulang punggung perekonomian nasional dan pastinya menyejahterakan masyarakat Indonesia. Walaupun demikian kelestarian kawasan dan dukungan terhadap masyarakat adat perlu didampingi dengan usaha pembentukan gaya hidup masyarakat Indonesia yang beretika ketika berwisata di berbagai tempat. Termasuk dukungan kepada praktisi industri wisata yang berperan dalam kegiatan promosi wisata seperti blogger, penulis maupun, start up dan usaha travel di seluruh Indonesia.

Bukan tidak mungkin cita-cita Kementerian Pariwisata “1 Juta Wisman Per Bulan” akan tercapai apabila beberapa hal yang telah sebelumnya saya utarakan diterapkan dengan sepenuh hati. Memang banyak pekerjaan untuk kita semua dalam membangun usaha pariwisata Indonesia yang lebih baik di masa mendatang. Namun saya yakin hal ini bukanlah sesuatu yang mustahil apabila dilaksanakan dengan penuh integritas dan bertanggungjawab. Apalagi ada beberapa poin pendapat yang tertera diatas sedang dan mungkin telah dilakukan oleh Kementerian Parawisata saat ini.

Demikian surat kepedulian saya akan nasib industri pariwisata Indonesia. Semoga buah pikiran yang telah saya sampaikan ini dapat bermanfaat bagi terpenuhinya target Kementerian Pariwisata Republik Indonesia yang Bapak pimpin saat ini.

Salam,

Felicia Lasmana

 


 

Tulisan ini merupakan bagian dari posting bareng Travel Bloggers Indonesia: Surat untuk Pak Menteri. Silahkan membaca Twitter @IDTravelblogs #SuratMenteri atau tulisan kawan pejalan TBI berikut ini:

Apabila kalian menikmati tulisan ini mungkin yang berikut juga menarik untukmu:

Foto di atas adalah peta Indonesia di Museum Bank Indonesia, Kota Tua. Sebuah museum yang selama ini dijadikan obyek wisata murah meriah bagi penduduk Jakarta dan sekitarnya.

Tulisan ini Target 1 Juta Wisman Per Bulan Menurut Seorang Biolog, Pejalan dan Blogger muncul pertama di www.felicialasmana.com

Advertisements

14 thoughts on “Target 1 Juta Wisman Per Bulan Menurut Seorang Biolog, Pejalan dan Blogger

  1. Wisata Indonesia juga diharapkan tidak mengusung konsep Business As Usual tetapi lebih memperhatikan kelestarian alam dan mendukung keberlangsungan masyarakat adat dalam pembangunan daerah.

    SETUJU! dan konsep Wisatawan Lestari itu oke bangeut!

    Like

  2. Pemerintah juga sudah saatnya memikirkan fasilitas di kawasan wisata,. hal kecil seperti sampah yang sering luput dan itu jelas mengganggu,. semoga di 2015 ada perubahan,.

    Like

    1. Sampah emang keknya udah budaya. Makanya pendidikan sejak dini menjadi penting. Di Bandung fasilitas ada pun masyarakat tetep buang sampah sembarangan pdhal tinggal jalan bbrp langkah. Selain itu tempat sampah jadi objek vandalisme atau besinya kemungkinan dicuri (hiks)

      Like

      1. Hi Fel, sedih juga denger soal di Bandung masih gitu walupun tempat sampah udah banyak :(
        Tapi gw rasa masalah sampah sih masalah global yaaa.. Kesadaran orang pada umumnya emang masih rendah. Mikirnya mungkin begini, selama dampak tidak kena langsung ke mereka, mayoritas ga punya kesadaran untuk (contoh paling gampangnya) buang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan sampah plastik, memperhatikan gimana seharusnya buang baterai, dll dll termasuk menjaga kelestarian alam. :D

        Liked by 1 person

  3. Ya, karena bagi saya yang juga punya perhatian buat lingkungan, ikut khawatir karena tak semua pelancong bertanggung jawab. Waktunya yg peduli yang beraksi. Salam kenal ya :)

    Like

  4. Paling urgent saat ini buat memajukan wisata Indonesia, adalah:
    1. ketersediaan informasi yang jelas dan akurat
    2. sarana transport, terutama antar pulau agar lebih sering dan tertata
    3. pengelolaan sampah
    4. baru deh promosinya, ke dalam dan luar negeri.
    Contoh gampang: Pulau Alor dan pulau2 kecil sekitarnya itu luar biasa… tautan ini cuma ujung dari gunung es potensi yg belum dikelola: http://lifetimejourney.me/2014/12/03/nyebur-ke-laut-pas-arus-dingin-di-pulau-alor-ntt/

    Like

    1. Salam kenal :)

      Setuju Mba! tapi memang banyak sekali PR pemerintah tentunya. Apalagi pengen genjot target 1 juta wisman perbulan di tahun 2019. Sepertinya di masa2 mendatang program2 dan dana pemerintah di daerah/kota/kabupaten juga akan lebih baik untuk mendukung usaha pariwisata apalagi di tempat2 terpencil. Toh yang paling tahu potensi daerah tentu pemda setempat dibanding pemerintah pusat.

      P.S. saya ngefans sama Cahaya Dari Timur: Beta Maluku lhoo!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s