India: Sarnath, The First Sermon from Buddha

DSCF8322

I never know if never been into Varanasi. Around an hour from Varanasi there is small town called Sarnath where Siddhartha Gautama had his first sermon to the world. After a night in Varanasi and visiting The Ganges, we think it would be great idea to visit this historical place. In this very small city, we can see a beautiful remnant of Buddhist temple. Next to this one, there is Architectural Museum where the first Indian gold stamp lion with three heads was placed. However, it is not great time for us and it was closed that time. Instead we visited another interesting garden full with murals of Buddha life.

Continue reading “India: Sarnath, The First Sermon from Buddha”

India: Varanasi, The Holy City

Image

This is my first post on India and it’s all about Varanasi. My short comments for this city it is very mystical. You will never regret if you go to India even if you tell stories on India  after time you will it very mesmerizing. Varanasi is one the holy city especially for Hindu people. You will find life and death here. You will see it enhanced with its quiet Ganges. Reminds me of Barito River in Kalimantan but it just full with decomposed and rotten things. You will amazed how much people bathed and drink its water. How Indian praises Ganges River more than ever. Sometimes you find it still very touristy. Oh well despite everything said by other people, it is always good to see different culture and unique landscape like the Ganges. Actually I made this posting while I am in travelling through Central Kalimantan. I hope I can make another post after this one for sure. Continue reading “India: Varanasi, The Holy City”

India: Mabuk Masakan India

Tulisan kali ini mengenai masakan India yang terkenal berkari se-antero dunia.

Banyak teman berpikir bahwa selama ini saya telah menjadi seorang vegetarian padahal saya hanyalah seorang selective omnivore. Kalau dibilang pada keadaan tertentu saya tidak sepenuhnya vegetarian/vegan dan masih makan produk susu dan turunannnya. Jadi suka pilih-pilih makanan saja sesuai dengan keadaan. Yang pasti saya berusaha untuk mengurangi porsi daging merah & putih termasuk ikan belakangan. Jadi apapun istilahnya, selective omnivore, ¾ vegan, atau mindful eater sebenarnya saya hanya orang yang suka pilih-pilih makanan saja.

Nah dipikir-pikir sungguh sangat menyebalkan kalau berpikir pergi ke India akan menbuat seseorang menjadi seorang vegetarian atau vegan. Anda salah besar!! Selama perjalanan pada awal bulan Oktober kemarin, makanan India ternyata sangat memabukkan karena kaya akan cita rasa dan menambah nafsu makan. Tidak salah lagi membuat saya gendut dan naik satu setengah kilo. Bisa dibilang dengan porsi besar dan cukup untuk 2 atau 3 orang itulah yang membuat saya semakin niat makan Naan atau Chapati sebanyak-banyaknya. Saus yogurt pun sangat menggugah rasa di kala masakan menjadi terlalu berbumbu (jangan lupa untuk minum Lassi dan Masala Chai yang juga enak walau asal Anda tahu saja biasanya berbahan dasar susu kerbau).

Selain itu ternyata di India masih banyak pilihan untuk makan sebagai omnivora. Tapi jangan harap untuk mendapatkan masakan berbahan dasar sapi karena tentu saja sapi dianggap sebagai hewan suci di hampir semua kawasan. Walaupun menurut teman India di Agra, di Kalkuta bisa jadi Anda mendapatkan masakan berbahan dasar sapi. Kalau memang ternyata Anda makan sapi bukan tidak mungkin Anda akan masuk penjara setelahnya (hiiiii mengerikan!). Memakan atau menyembelih sapi masih merupakan pelanggaran hukum serius di negeri ini, Bung! Kalaupun masih niat untuk mendapatkan masakan ber-sapi-ria, Anda dapat mengunjungi Burger King atau McDonald yang rata-rata rasanya sudah disesuaikan dengan cita rasa India. Karena biasanya mereka telah memiliki divisi makanan vegetarian yang tidak akan pernah ditemukan di Indonesia.

Apabila sempat ke India janganlah ragu untuk mencoba segala jenis makanan. Delhi Belly alias sakit perut karena kebanyakan makan kari kemungkinan besar sangat umum terjadi pada beberapa hari pertama. Tapi bukan berarti Anda akan takut untuk mencoba bukan?

Selamat berwisata kuliner di India! :)

India: Transportasi India

Image

Indonesia patut panas dengan India karena sudah ketinggalan jauh dalam segi pemenuhan sarana transportasi. Setidaknya seperti di kota besar seperti New Delhi. Sebagai negara yang berkembang sangat pesat, India sangat memperhatikan warganya yang sekarang ini sudah berjumlah 1.098.577.839 penduduk (Wikipedia 2013).

Ada 6 alat transportasi utama di India yang semuanya bisa dibilang sangat murah

  1. Bemo: Kalau di Jakarta malah sudah digusur dan hampir tidak ada lagi maka di India bemo atau yang disebut dengan nama keren autoricksaw malah dilestarikan. Kita dapat dengan mudah menjumpai bemo ini dengan warna hijau dan kuning sebagai ciri khasnya. Jangan takut untuk tawar menawar harga, pastikan saja bemo yang Anda tumpangi adalah prepaid autoricksaw atau memiliki argo. Untuk tarif biasanya berkisar antara Rs10 – Rs50.
  2. Bus: Di New Delhi malahan stasiun bis sudah seperti bandara udara dengan sistem terkomputerisasi mulai dari pemesanan tiket online dan full AC. Walaupun memang di beberapa kota masih jauh dan sama seperti di indonesia.
  3. Metro : Nama lain dari subway di New Delhi (dan kemungkinan besar juga di beberapa kota besar India lainnya). Teman saya Dini malah berkata Metro di Delhi masih lebih baik kondisinya daripada Metro di Paris? (Hah?). Logo Metro India pun dapat dikatakan mengikuti Tube di London walaupun mungkin masih kalah bersih dengan negara penjajahnya atau di Singapura. Kemarin pun dari New delhi menuju Airport saya turut merasakan fasilitas terbaru dari metro antar kota dan Bandara Udara Indira Gandhi yang baru diresmikan bulan Juli kemarin malahan. Namun sayang tidak dapat diabadikan dalam bentuk foto karena dilarang oleh petugas kemanan setempat. Untuk menggunakan fasilitas umum ini cukup dengan membayar token plastik dan kartu pass dengan harga terjangkau mulai Rs20 – Rs30 sekali jalan.
  4. Kereta Api: Kereta api sudah memiliki sejarah panjang dalam perjalanan alat transportasi India sejak jaman kolonial Inggris termasuk sistemnya yang komplek namun menakjubkan. Namun ada pengalaman bikin jiper sekaligus berkesan pada saat saya dan Dini naik kereta dari Varanasi ke Agra. Karena ternyata tiket kami belum layak naik gerbong (alias waitlisted) maka kami dianggap sebagai penumpang gelap. Tapi berkat ketenangan kami berdua maka kami tetap dapat naik kereta walaupun diminta untuk membayar tiket langsung di gerbong kereta lengkap dengan denda dan tip (Ya, orang India sangat suka dengan tip!). Kalkukasi tiket on board juga sangat menarik untuk diamati. Kondektur karcis malah punya semacam buku kecil untuk kitab kalkukasi jarak dan biaya tiket karena ternyata permasalahan penumpang gelap seperti ini memang sangat sering terjadi :D. Tapi jangan harap untuk menjumpai hal seperti ini di gerbong General Quota karena pasti tiket kalian tidak akan pernah diperiksa berdasarkan pengalaman.
  5. Taksi: Di Bandara Kolkata malah disarankan untuk membeli tiket prepaid taxi yang walau lama antrian tunggunya. Walaupun demikian tidak seperti di Indonesia tungguannya dijamin bergerak dan tidak macet (ingat Blue Bird di Cengkareng?). Kemudian apabila diamati Taksi Kolkata pun sangat vintage dengan warna kuning seperti kembali ke jaman tahun 60an.
  6. Pesawat: mungkin bukan alat transportasi utama tapi kalau kalian di india kalian layak ntuk merasakan terbang bersama IndiGo, pesawat budget asli India yang keren dan masuk sebagai maskapai penerbangan terabik di India versi Skytrax 2013. Di bandara, IndiGo sangat mudah ditemukan dengan warna indigonya (tentu saja). Ada juga Spicejet yang lengkap dengan warna merah pada tubuh pesawatnya (sangat bercirikan India yang meriah bukan?).

Namun terlepas alat transportasi apapun yang kalian naiki tetap saja identitas budaya india tetap kental dimana saja dan biasanya diabadikan dengan keberadaan meja puja-pujaan entah kepada Wisnu, Shiva, Ganesha, Sai Baba, dll. Produk transportasi lokal seperti TATA dan BAJAJ termasuk revitalisasinya juga dapat ditemukan dimana-mana mulai dari tingkat kota maupun pedesaan seperti yang saya temukan ketika berkunjung ke Dharamsala.

India terus bergerak dan memperbaiki diri walau dengan segala kekurangannya. Mulai dari kebersihan dan sarana transportasi dan ini pasti dan meningkat dari kota ke kota yang saya kunjungi beberapa waktu lalu. Jadi kalian pastinya setuju apabila bangsa yang besar terlihat dari infrastruktur yang berhasil dibangun dan dinikmati bangsanya bukan?

India: Pemesanan Tiket Kereta Api India

20131010_092820

Pertama kali naik kereta api di India tentunya memerlukan kesabaran tingkat tinggi karena walaupun kita sampai India belum tentu kita dapat mendapatkan tiket kereta dengan segera. Kalaupun mau agak nyaman bisa juga pesan tiket foreign quota walaupun mungkin harganya lebih mahal dengan jumlah terbatas dan proses tunggu yang agak lama.

Bukan tidak mungkin memesan tiket kereta di luar India. Bermodalkan kartu kredit dan sudah melakukan pendaftaran pada IRCTC dan Cleartrip, kita dapat dengan mudah melakukan reservasi, pemeriksaan status tiket, refund, atau malah pembatalan tiket. Tentunya hal ini dengan sedikit biaya karena telah dibantu oleh Cleartrip. Hal ini karena IRCTC (lembaga resmi penjual tiket kereta api India) dan Cleartrip (online ticketing service) telah memiliki kerjasama dalam hal pembelian tiket khusus di luar negeri.

Pertama-tama sign up pada Cleartrip dan IRCTC. Saya merekomendasikan melakukan registrasi di Cleartrip terlebih dahulu karena nanti ada panduan lengkap dari pihak Cleartrip sendiri. O ya karena kita tidak punya nomor telepon India nanti apabila ditanya nomor telepon buat asal saja dulu karena yang penting ada 10 digit/nomor (begitu juga untuk kode pos). Selanjutnya nanti ada konfimasi email untuk OTP cellphone number dan OTP email. Untuk mendapatkan OTP cellphone number dapat mengirimkan salinan paspor ke customer care IRCTC [care@irctc.co.in].  Setelah semuanya berhasil teregistrasi masukkan username dan kata sandi Cleartrip dan IRCTC untuk konfirmasi tiket. Untuk saat ini malah bisa juga booking tiket bus tapi sayangnya mereka masih ga terima kartu kredit asing untuk pemesanan bus.

Yang pasti saran utama dalam pemesanan tiket adalah pastikan tiket udah di tangan jauh-jauh hari minimal 2 bulan dan maksimal 1 bulan sebelumnya. Walaupun kamu sudah pasti masuk daftar tunggu (waiting list) kurang dari 10 orang (besar kemungkinan untuk dapat konfirmasi tiket tapi ini juga kan seperti untung-untungan. Karena berdasarkan pengalaman dari 3 kali beli tiket dengan waiting list kurang dari 10 orang cuman satu yg pernah kejadian status PNR* naik jadi RAC** dan akhirnya Confirmed ticket***.

Saya sempat bertanya kepada teman India saya mengapa India memiliki sistem ticketing yang rumit? Jadi dapat diibaratkan bagaimana kalau 500 kursi kereta diuber-uber oleh 5000 orang. Mungkin sistem ini seperti memberi harapan palsu kepada semua orang tapi dengan sistem online ini bisa dibilang katanya telah mempersingkat waktu tunggu. Apalagi kita sudah memiliki itinerari yg lengkap untuk perjalanan ke seluruh India.

Semoga membantu ya ;)

*PNR = kode unik untuk ID tiket masing-masing penumpang

**RAC = Reservation Against Cancelation; berbeda dengan status WL/Waiting Listed kalian bisa naik ke gerbong kereta walau tidak begitu jelas bakal kursi dan berth yang mana

***Confirmed = Tiket sudah terkonfimasi dan kalian mendapatkan kursi yang diinginkan berdasarkan pemesanan.

India : Naik Kereta Api di india

20131010_045530

Berdasarkan pengalaman pribadi, pastikan juga kalian memiliki waktu yg cukup dari misal airport ke stasiun kereta. Minimal 3 jam tergantung macet atau antrian prepaid taxi (antriannya lama tapi kita terjamin dari ancaman penipuan karena  urusan pemesanan taksi dan autoricksaw/tuk-tuk diurus langsung departemen kepolisian setempat).

Stasiun India mungkin hampir sama atau 4 kali lebih besar dr Indonesia. Yang membedakan adalah panjangnya peron. Karena rata-rata memang panjang sekali kereta di India. 3 hingga 4 kali lebih panjang dr kereta di Indonesia. Ini sudah termasuk gerbong 1 Class AC, 2 Class (Non-/AC), 3 Class (Non-/AC), Chair Class, General Class, Ladies Coach, serta Disabled Coach khusus untuk orang cacat.

Untuk yang baru pertama kali ke India mencoba kereta dengan General Class tentunya membutuhkan nyali super besar. Saya pribadi sebenarnya lebih suka karena suasananya lebih cair. Mana mungkin kalian bisa lihat orang masak air didalam kereta yang sedang berjalan? Atau mengeringkan celana (dalam) dengan kipas angin yang ada pada masing-masing gerbong atau malah bermain dengan anak-anak India yang super jahil tapi sekaligus lucu-lucu.

Untuk tiket jangan harap untuk mendapatkan informasi yang jelas pada tiket yg kalian dapat. Perhatikan saja pengumuman di stasiun karena pasti banyak perubahan dari waktu ke waktu entah itu jadwal waktu atau perpindahan jalur peron secara mendadak. Lalu yang terpenting jangan hanya mengandalkan informasi dari satu atau dua orang.

Pada saat naik kereta, alangkah baiknya apabila memilih upper berth* klo mau aman. Klo mau duduk di lower berth pastikan barang aman dari jangkauan tangan usil. Membawa rantai dan gembok bisa dibilang normal apabila naik kereta apalagi untuk rute yang terkenal ramai seperti New Delhi dan Agra.

Bagi yang bermasalah dengan kandung kemih, jam paling banyak orang ke WC adalah sebelum stasiun terakhir atau jam 8 dan 9 pagi. Pastikan untuk membawa tissue basah atau sabun sendiri. Toilet di India mempunyai sistem basah yang sama seperti di Indonesia dengan tingkat kebersihan hampir sama seperti di Indonesia dan meningkat mengikuti kelas.

Jadi apakah kalian siap untuk naik kereta di India?

*kalau yang suka tidur di loteng pasti suka. Tidak disarankan bagi yang punya fobia ketinggian :D

India: 3 Alasan Traveling ke India

DSCF8652

Banyak teman yang bilang saya aneh atau malahan gila ketika memutuskan untuk traveling ke India bersama seorang teman yang juga perempuan. Ketika sampai pun rata – rata orang India menyangka kita adalah orang Malaysia (Do-uh sensitif nehh :D).

Apakah memang betul hampir tidak ada orang Indonesia yang ke India? Kenyataan memang demikian adanya. Dari kota ke kota, saya dan teman menyadari betul hal ini. Mulai dari kita adalah orang Indonesia pertama di hostel A, kemudian kita adalah couchsurfer Indonesia pertama pada hampir seluruh host yang kita kunjungi, lalu di kereta pun orang India yang rata-rata kepo pun terheran-heran dengan nama Indonesia yang nyatanya tidak ada dalam peta dunia pikiran mereka.

Adapun terdapat beberapa alasan mengapa saya akhirnya pergi ke India awal bulan Oktober 2013 ini.

1. Mimpi yang jadi kenyataan: sedari dahulu India merupakan negara yang eksotis dan kaya akan budaya. Tentunya dengan segala kekayaannya perjalanan ke India akan menjadi sangat menarik walaupun keindahan Indonesia tentunya tidak kalah. Intinya saya ingin memuaskan rasa ingin tahu terhadap India.

2. Liburan spontan: mulai persiapan jadwal, ticketing kereta, pesawat, pengambilan cuti kerja, pembuatan visa semuanya dilakukan secara spontan 4 minggu sebelum perjalanan. Saya dan teman memutuskan pergi ke India setelah mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke Singapura secara gratis berkat hadiah dari salah satu perusahaan kosmetik ternama di Indonesia.

3. India adalah negeri yang keren : ini tidak dapat dipungkiri bagi para backpackers, India adalah medan tempur dan salut bagi yang pernah kesana (katanya hehe). Walaupun dengan ancaman kriminalitas yang cukup tinggi seperti pencurian, penipuan, pembunuhan, dan yang paling terkenal kemarin adalah pemerkosaan. Kok jadi serem yaa? Tapi bukankah ini juga dapat terjadi dimana-mana termasuk di Indonesia?

Secara umum, India dalam gambaran film India tidaklah sama dengan yang kami kunjungi. India dengan segala kesempurnaan dan ketidaksempurnaannya. India dengan jutaan wajah berbagai etnis, aneka ragam budaya, masakan yang terlalu berbumbu dan sering membuat perut kami mulas dibuatnya, serta modernitasnya pada sektor alat transportasi yang malah sudah melebihi Jakarta telah memikat kami berdua walau dalam kunjungan singkat. Sayang kami hanya dapat berkunjung ke 6 kota dalam waktu seminggu (Kolkata-Varanasi-Agra-Delhi-Dharamsala-Chennai). Mungkin lain kali dan saya sangat optimis akan hal ini :)

India: Light Traveling & Perempuan

DSCF8472

Untuk perempuan muda dan gemar traveling seperti saya apa aja sih yg harus ada dibawa. Berikut daftar barang bawaan dan pakaian saya pada waktu ke India awal bulan Oktober 2013.

Ketika berangkat saya memakai

  • Celana panjang
  • Giordano Tee warna ungu yang kalaupun kotor tidak akan begitu kelihatan
  • Sepatu Merrel : barefoot shoes yang baik untuk jalan, lari maupun treking. Sebenarnya bawa sandal juga tapi hampir tidak pernah dipakai selama di India.

Perlengkapan utama

  • Dokumen travel  (paspor, itinerari, credit card, ID)
  • Rucksack/Carrier REI Rungwe 40 Ltr : jujur yang dipakai mungkin cuman 30 Ltr saja pas awal. Baru pas pulang langsung 40 Ltr gara-gara bawa titipan buku dan oleh-oleh. Saya suka karena ada risleting bawah untuk mengambil barang yang ada di bagian bawah tas.

Untuk pakaian sebisa mungkin dengan bahan tipis dan senyaman mungkin karena kemungkinan besar sangat sulit untuk menetap dalam waktu yang lama di satu tempat

  • 1 Tanktop : berguna untuk tidur maupun kaos dalam
  • 4 T-shirts : tentunya salah satu sudah dipakai lho sedari awal perjalanan. Karena biasanya susah cari jemuran saya pilih Giordano Tee yang cepat kering. Selain itu jangan lupakan keajaiban kemeja putih baik untuk acara formal maupun informal. Nampaknya di masa mendatang saya akan mengurangi bawaan baju saja menjadi cukup 3 atau malah 2 t-shirt saja untuk faktor kepraktisan.
  • 1 Pashmina : warna abu-bau yang netral yang berguna sebagai pengganti jaket di kereta atau bis karena ber-AC
  • 1 Celana pendek : buat berenang dan tidur juga oke
  • 1 Bikini/swimsuit : modal utama kalau mau berenang karena pastinya dimana saja dan kapan saya selalu selalu menjadi gadis perenang (malam).
  • 2 Celana panjang : Yang pasti dari awal sudah pakai salah satu. Salah satu yang layak dipertimbangkan karena cepat kering dan nyaman kalau pun dingin seperti Marmot Lobo.
  • Jaket : fleece yang berfungsi sebagai insulator yang sangat berguna ketika saya di Dharamsala yang cukup lumayan dingin karena terletak di kaki Gunung Himalaya
  • Sarung : bisa berfungsi sebagai sleeping bag, jaket, atau malah tas cadangan.

Tambahan lainnya yang juga tidak kalah penting

  • Kacamata hitam/Topi/Payung: pilih salah satu lebih baik
  • Obat pribadi : obat alergi dan parasetamol, soft lenses + solution versi mini pastinya ga boleh lupa
  • Alat mandi: dlm wadah mini 100ml atau malah lebih baik lagi kalau beli pas di lokasi tujuan.
  • Kotak perhiasan : untuk oleh-oleh anting dan kalung yang sangat rentan rusak maupun yang dipakai selama perjalanan. Kotak yang biasa saya pakai sebenarnya dari bekas wadah lulur mandi.
  • Kosmetik : siapa bilang perempuan ga bisa dandan kalo lagi traveling? Minimal supaya terlihat segar lah. Untuk bedak, moisturizer, eyeliner, mascara, eye shadow, lipstik saya pakai Caring Colours sedangkan untuk lipbalm saya pakai Nivea Soft Rose. Untuk Sunblock, Soltan Invisible lotion SPF 15 menjadi pilihan saya tapi sebelumnya supaya ringan pindahin dalam tabung mini bekas shampo hotel.
  • Deuter Wizard : untuk faktor kepraktisan terkadang rucksack saya tinggal di hostel atau rumah teman. deuter . Bisa juga diganti tas tissue seperti buat belanja di supermarket.
  • Jurnal dan Pulpen: terkadang dibutuhkan untuk menjelaskan rute atau sekedar bertukar info serta menulis buku harian selama perjalanan
  • Adaptor universal
  • Galaxy Note : ga ada laptop, phablet pun jadi. Kalau suntuk bisa browsing gratis dengan WiFi gratis. Kalau mau baca buku ada e-book reader. Jadi ga usah beli paperbook lagi.
  • Motorola ACTV: MP3 player sekaligus pedometer untuk aktivitas olah raga ketika traveling
  • Camera Fujifilm X10 : Kamera utama selain Galaxy Note :)

Sebagai cewek tentunya lebih besar tas yang dipakai malahan lebih banyak yang akan dibawa. Namun kerugiannya maka akan semakin berat pula dan agak menyusahkan untuk bepergian apalagi backpacking.

Jadi kamu pilih bawa carrier besar atau kecil?