Tentang Oleh-oleh

DSCF8337

Oleh – oleh terbaik yang pernah saya berikan pada orang lain kemungkinan besar adalah foto dan cerita ketika berkelana. Saya sangat sering merasa sebal kalau ada orang yang dengan serta merta meminta dengan sangat oleh-oleh setelah berpergian baik untuk wisata maupun bekerja (maaf agak lebay hehe). Ada juga yang nyindirnya pun sampai berminggu-minggu (males ga tuh?). Seringkali pula jadinya malah malas kalau mereka nanya kita mau kemana lagi. Bukan masalah tanya-tanyanya tapi sedari awal orang-orang ini sudah berharap tentang oleh-oleh. Memang wajar sih tapi seringnya bikin jengkel belum lagi minta yang macem-macem.

Mungkin memang sudah jadi tradisi tapi bagi saya ini amat sangat ganggu apalagi sering perjalanan yang akan saya jalani adalah business trip atau budget traveling/backpacking. Tapi bukan berarti saya tidak akan pernah beli oleh-oleh lho. Bukannya ga ikhlas cuman kadangkala jengkel saja jadi mendingan ga usah beli aja.

Apakah mereka pernah berpikir kalau berpergian itu bukan hanya soal oleh-oleh? Sebuah perjalanan bukanlah masalah uang. Konsep traveling yang saya usung pastinya bukan tentang oleh-oleh tapi kepuasan batin dan meraup pengalaman sebanyak-banyaknya yang mungkin walaupun diceritakan akan sangat jauh maknanya kalau tidak dirasakan sendiri.

Jadi jangan mengharapkan banyak oleh-oleh dari saya karena terus terang saya paling malas kalau beli oleh-oleh

Pertama, karena saya paling malas untuk beli oleh-oleh. Ini betul karena untuk membeli barang untuk diri saya sendiri,  saya sudah cukup kikir dan membuang banyak waktu. Contohnya paling sering  adalah pada saat beli sepatu. Bisa jadi untuk memilih sepatu dengan model yang sama namun warna yang berbeda perlu waktu 3 jam. Ini juga pakai acara keliling mall untuk dapetin harga yang lebih murah padahal akhirnya balik lagi ke toko awal. Apalagi ini dengan banyak pilihan oleh-oleh?

Kedua, rucksack saya ga cukup besar untuk menampung oleh-oleh untuk semua orang dan biasanya menghindari untuk menaruh barang di bagasi (hemat dan cepat sesuai konsep light traveling).

Ketiga, berdasarkan kepentingan ada 4 tipe manusia oleh-oleh

Tipe 1. Bilang “Terima kasih banyak yaaa. Masih ingat sama saya” (paling baik dan kemungkinan teman baik atau keluarga)
Tipe 2. Bilang “Saya pengen ini dan nanti saya ganti” (padahal nantinya ngga dan hanya mengucapkan terima kasih)
Tipe 3. Bilang “Terima kasih yaaa tapi saya pengen yang ini dan itu sebenernya” (ga tau terima kasih kan ini orang?).
Tipe 4. Mana pacar baru? (eh? ini beda ya? tapi ada juga sih yang nanya gini hehe)

Tulisan ini mungkin tercipta karena banyak pengalaman buruk berbagi oleh-oleh kali yaa? Bagaimana dengan kalian? Apakah ada pengalaman menarik tentang berbagi oleh-oleh?

India: Light Traveling & Perempuan

DSCF8472

Untuk perempuan muda dan gemar traveling seperti saya apa aja sih yg harus ada dibawa. Berikut daftar barang bawaan dan pakaian saya pada waktu ke India awal bulan Oktober 2013.

Ketika berangkat saya memakai

  • Celana panjang
  • Giordano Tee warna ungu yang kalaupun kotor tidak akan begitu kelihatan
  • Sepatu Merrel : barefoot shoes yang baik untuk jalan, lari maupun treking. Sebenarnya bawa sandal juga tapi hampir tidak pernah dipakai selama di India.

Perlengkapan utama

  • Dokumen travel  (paspor, itinerari, credit card, ID)
  • Rucksack/Carrier REI Rungwe 40 Ltr : jujur yang dipakai mungkin cuman 30 Ltr saja pas awal. Baru pas pulang langsung 40 Ltr gara-gara bawa titipan buku dan oleh-oleh. Saya suka karena ada risleting bawah untuk mengambil barang yang ada di bagian bawah tas.

Untuk pakaian sebisa mungkin dengan bahan tipis dan senyaman mungkin karena kemungkinan besar sangat sulit untuk menetap dalam waktu yang lama di satu tempat

  • 1 Tanktop : berguna untuk tidur maupun kaos dalam
  • 4 T-shirts : tentunya salah satu sudah dipakai lho sedari awal perjalanan. Karena biasanya susah cari jemuran saya pilih Giordano Tee yang cepat kering. Selain itu jangan lupakan keajaiban kemeja putih baik untuk acara formal maupun informal. Nampaknya di masa mendatang saya akan mengurangi bawaan baju saja menjadi cukup 3 atau malah 2 t-shirt saja untuk faktor kepraktisan.
  • 1 Pashmina : warna abu-bau yang netral yang berguna sebagai pengganti jaket di kereta atau bis karena ber-AC
  • 1 Celana pendek : buat berenang dan tidur juga oke
  • 1 Bikini/swimsuit : modal utama kalau mau berenang karena pastinya dimana saja dan kapan saya selalu selalu menjadi gadis perenang (malam).
  • 2 Celana panjang : Yang pasti dari awal sudah pakai salah satu. Salah satu yang layak dipertimbangkan karena cepat kering dan nyaman kalau pun dingin seperti Marmot Lobo.
  • Jaket : fleece yang berfungsi sebagai insulator yang sangat berguna ketika saya di Dharamsala yang cukup lumayan dingin karena terletak di kaki Gunung Himalaya
  • Sarung : bisa berfungsi sebagai sleeping bag, jaket, atau malah tas cadangan.

Tambahan lainnya yang juga tidak kalah penting

  • Kacamata hitam/Topi/Payung: pilih salah satu lebih baik
  • Obat pribadi : obat alergi dan parasetamol, soft lenses + solution versi mini pastinya ga boleh lupa
  • Alat mandi: dlm wadah mini 100ml atau malah lebih baik lagi kalau beli pas di lokasi tujuan.
  • Kotak perhiasan : untuk oleh-oleh anting dan kalung yang sangat rentan rusak maupun yang dipakai selama perjalanan. Kotak yang biasa saya pakai sebenarnya dari bekas wadah lulur mandi.
  • Kosmetik : siapa bilang perempuan ga bisa dandan kalo lagi traveling? Minimal supaya terlihat segar lah. Untuk bedak, moisturizer, eyeliner, mascara, eye shadow, lipstik saya pakai Caring Colours sedangkan untuk lipbalm saya pakai Nivea Soft Rose. Untuk Sunblock, Soltan Invisible lotion SPF 15 menjadi pilihan saya tapi sebelumnya supaya ringan pindahin dalam tabung mini bekas shampo hotel.
  • Deuter Wizard : untuk faktor kepraktisan terkadang rucksack saya tinggal di hostel atau rumah teman. deuter . Bisa juga diganti tas tissue seperti buat belanja di supermarket.
  • Jurnal dan Pulpen: terkadang dibutuhkan untuk menjelaskan rute atau sekedar bertukar info serta menulis buku harian selama perjalanan
  • Adaptor universal
  • Galaxy Note : ga ada laptop, phablet pun jadi. Kalau suntuk bisa browsing gratis dengan WiFi gratis. Kalau mau baca buku ada e-book reader. Jadi ga usah beli paperbook lagi.
  • Motorola ACTV: MP3 player sekaligus pedometer untuk aktivitas olah raga ketika traveling
  • Camera Fujifilm X10 : Kamera utama selain Galaxy Note :)

Sebagai cewek tentunya lebih besar tas yang dipakai malahan lebih banyak yang akan dibawa. Namun kerugiannya maka akan semakin berat pula dan agak menyusahkan untuk bepergian apalagi backpacking.

Jadi kamu pilih bawa carrier besar atau kecil?

China: Kunming, The Old and New | Kunming, Lama dan Baru

DSCF7512This post I dedicate for my buddies, Indri Juwono, who’s an architect and also traveler. Kunming as many growing city across China is full with unity of old and new buildings. As the largest city in Southern China, Kunming is really impressive and beautiful. The worst part of this city is probably only the taxi. It would be difficult to get taxi eventhough you’ve waited for hours.
Continue reading “China: Kunming, The Old and New | Kunming, Lama dan Baru”

China: Macro from Xishuangbanna | Makro dari Xishuangbanna

DSCF6715

As a part of Yunnan, China trip I took macro photography lesson with Pierre Honoré. I think my point-and-shoot techniques getting better now with my Fujifilm X10 (Thanks to Pierre!). It is a vintage style camera and really nice for documentation and macro (it has super macro!) although bad for telephoto. At first I want change into DSLR but I still like its compactness and practical for traveling.

Continue reading “China: Macro from Xishuangbanna | Makro dari Xishuangbanna”

China: First News After China | Berita Pertama setelah Cina

ImageI just been back Yunnan, China after a month away and where most social media including this blog are banned. There are so many stories to tell but only a few I could shared with all of you through this media. I met lots awesome new friends and few more even become my new best friend. Will tell you stories between cities to town and the forest around China after this.Continue reading “China: First News After China | Berita Pertama setelah Cina”

Jawa Pos, 14 July 2013

Presentation1Hello Guys,

I am on JAWA POS last Sunday, 14th July 2013. For anyone who would like to read the articles and cannot buy the newspaper here you go! (Sorry it’s in Bahasa Indonesia).

Happy reading!Continue reading “Jawa Pos, 14 July 2013”

Inside YCPA 2013

20130627_085415I have promised to you all for telling my stories on YCPA 2013. How did I stumbled upon this beauty pageant award for young professional woman. But probably you guys knew it already. My friend Chika and I promised to join this competition together before because of the prizes, visiting the Google office in Singapore.Continue reading “Inside YCPA 2013”

Footprints in Wahau | Jejak di Wahau

20130704_102551

So once again after 3 weeks I visited Wahau again. This time again to locate any animal sightings on smallholders oil palm plantation area. Interestingly we found many foot prints from cats, and also macaques like pictures above.Continue reading “Footprints in Wahau | Jejak di Wahau”

My Fieldwork Style | Gaya Lapanganku

20130704_064753

Either you are a biologist like me or geologist or whateva! You definitely need to have style anywhere you go. Seems absurd??? OK boys and girls let’s define our style!

Apapun profesimu, ahli biologi seperti gue, ahli geologi atau apapun yang berhubungan kegiatan lapangan! Kamu perlu bergaya kemana pun kamu pergi. Absurd ya?? OK mari kita definisikan gaya lapangan kita!

Continue reading “My Fieldwork Style | Gaya Lapanganku”

Daemeter’s Biodiversity Consultant Wins Young Professional Award

Image
Lasmana with her study object (left picture) and receiving the YCPA award (right picture, first from left)

Felicia Lasmana, a biodiversity consultant at Daemeter Consulting, has won an award for young female professionals from Martha Tilaar, one of Indonesia’s biggest producers of beauty products.Continue reading “Daemeter’s Biodiversity Consultant Wins Young Professional Award”

Borneo: My sightings on Wahau

DSCF5464
Furs of Diard’s Clouded Leopard (Neofelis diardi). One of the villager caught and killed this poor creatures about 3 months ago when he found it’s stealing his hunted Sambar deer. You can see the furs still glow means it just skinned recently.

I was visiting Wahau for the first time about 3 weeks ago. It is located about 7 hours from Berau and full of oil palm development dynamics. One of my work characteristic nowadays! It is most likely visiting to disturbed – secondary forest, cleared land for oil palm plantation or any other use. I know this sort of boring but the reality that most good forest is altered into either agriculture, mining activities and even houses. Kalimantan most likely full with range of mountain although there is no volcano within the island.  With such terrain and human activities widespread across the island, there is not enough room for human and spesifically wildlife like orangutans or gibbons. That is why there are so many conflicts between human and wildlife nowadays in Sumatra and Kalimantan. Apart with the destruction, there are always good and interesting things to see and talk about. I like the villagers and it is always great to work and talk with them especially about animals. Seemed they are not really worry about animals in the forest. They keep saying they still can find and hunt these animals in such great amount specially pigs, dear and mouse deer.   Even some of their main occupation are hunters NOT farmers like most people nowadays in Kalimantan.Continue reading “Borneo: My sightings on Wahau”

Urban Bat Training

I went to Universitas Indonesia, Depok about early last month to give bat handling/mistnetting training to Sheherazade and friends (Ardian, Marsya,  and Shafi) because she will conduct her study on fruit bats at Central Sulawesi this June/July. Well the weather didn’t let us to catch a thing that night though. It was heavy rain just after we set up the mistnets. But it gave all us impression that bat training can be done not only at outdoor instead we discuss about bat handling techniques using equipment and fieldguides we gather before. Thanks to Susan Tsang, she’s the one who asked me to give this training to her students. Probably next time if the weather is nice to us I will catch bats at Depok or anywhere else.
Susan and I set up the mistnets before heavy rain cancelled our bat waiting night
Susan and I set up the mistnets before heavy rain cancelled our bat waiting night

Continue reading “Urban Bat Training”